gdpermana' blog

"The Simple Blog..."

12:37 AM

Seperti Apakah Mahasiswa Seharusnya???

Diposkan oleh Admin



“Seperti Apakah Mahasiswa Semestinya?”

Politik…. Bagi yang jenuh dengan kata ini mungkin tidak akan pernah lagi mau untuk mengurusi, membicarakn bahkan untuk mendengar saja rasanya tidak akan pernah rela.

Tidak akan pernah rela untaian kata-kata ini memaksa masuk telinga dan menularkan ideology-ideoligy yang terkandung didalamnya yang kita tidak tahu sama sekali apa esensi dan manfaatnya yang kemudian memaksa kita untuk terjun kedalam dunia politik dan mengharuskan kita untuk bersentuhan dengan dunia politik hanya untuk sekedar mengetahui ideology apa yang merasuki kita, yang membuat kita seolah-olah bagian yang terpenting dari suatu organisasi politik.

Politik Kampus, politik yang sedikit akan membuat kita terheran-heran dengan apa sebenarnya yang ada di politik kampus ini.
Mahasiswa yang merupakan agen of change dalam arti luas telah memilih jalan hidupnya saat dikampus, ada mahasiswa ambisius yang mengejar jabatan teras di organisasi internal ataupun eksternal dengan berbagai alasan kenapa dia mengejar itu (salah satunya mungkin ingin terkenal), ada mahasiswa datar yang mengambil peran hidupnya sebagai mahasiswa sambil berharap perjuangan hidup selanjutnya datar juga yang cukup hanya dengan bekerja di Pemerintahan ataupun swasta tanpa memikirkan kekuasaan semata, ada juga mahasiswa yang mengambil perannya sebagai pembisnis yang saat masih menjabat sebagai mahasiswa telah berbisnis mulai dari bisnis wardrobe, percetakan, dompet pulsa, bloger, sampe jualan laptop pun bisa ditemukan di kampus dan ada lagi mahasiswa yang mengambil peranan sebagai mahasiswa “kutu buku” mahasiswa yang satu ini lebih unik lagi mereka tidak memikirkan kehidupan sosial, yang mereka pikirkan adalah “besok buku apa yang harus saya baca, buku yang saya baca tidak lengkap dan sebagainya”, mahasiswa seperti ini tidak peduli ada atau tidak rekan-rekan disampingnya yang bisa menemaninya untuk sekedar minum softdrink di kantin.

Mahasiswa yang mengejar jabatan teras di organisasi internal inilah yang kemudian menjadi pertanyaan besar buat kita yang tidak mengenal politik. Untuk apa mahasiswa seperti ini harus capek-capek menjadi “pejabat teras” di organisasi internal kampus? Apakah hanya untuk ketenaran semata? Apakah hanya karena merasa pas dan mampu menjadi “pejabat teras” kampus? Apa karena memanfaatkan ketokohan atau figurnya saja? Ataukah suatu jalan buat mereka untuk terjun ke partai politik ketika telah lulus? Ataukah memang orang-orang seperti ini yang sudah digariskan Tuhan YME untuk menjadi pemimpin di lingkungan kampus. Hanya yang menjadi “pejabat” dan Tuhan saja sepertinya yang tahu alasannya kenapa ada mahasiswa yang mengambil peranan seperti itu, menjadi “PEJABAT TERAS” kampus.

Terlepas dari apapun alasannya, saya melihat bahwa politik kampus benar-benar unik jika kita melihat dari proses perpolitikan hingga ke pemilihannya atmosfir politik kampus membuat kita benar-benar harus memiliki sepenuhnya konstituen agar bisa unggul di pemilihan, tak cukup modal terkenal, tak cukup punya figure bagus, tak cukup punya tampang menawan, tak cukup punya uang banyak yang bisa membuat baligo besar yang menghiasi halaman gedung kuliah, tak cukup juga punya tampang sangar yang bisa memaksa seseorang memilihnya. Di dunia kampus kita harus benar-benar “mengikat” konstituen dan berani memberikan “janji” mungkin salah satunya dengan kontrak politik karena bagaimanapun lingkungan kampus isinya merupakan orang-orang yang mempunyai kapasitas intelektual yang mumpuni dengan berbagai karakter intelektualitas.

Kampus tidak seperti pemilihan di suatu daerah seperti pilkada kabupaten atau kota yang mungkin untuk daerah terpencil kita bisa melakukan money politic atau memberikan sarana dan prasana yang dibutuhkan. Cukuplah seperti money politic, karena itu sedikit jaminan bahwa calon tersebut akan dipilih oleh daerah tersebut karena tingkat intelektualitas dan kecerdasan yang tidak memadai untuk menganlisa apa arti dari pemberian tersebut ataupun juga karena masyarakat yang memang membutuhkan sesuatu yang real dari para calon bukan malah membutuhkan program kerja atau visi misi yang membuat mereka bingung untuk apa itu dibacakan panjang-panjang.

Itu untuk ukuran daerah terpencil, lalu apa yang menjadi tolok ukur di lingkungan kampus agar kita bisa memenangi pemilihan baik Presma, BEM ataupun HMJ?? Mungkin yang pertama kita harus mempunyai jaringan yang luas atau biasa disebut link, jaringan yang kita punyai haruslah diisi orang-orangnya mempunyai kemampuan untuk mengajak orang lain mengikuti apa yang kita mau, kedua mungkin image kita harus benar-benar image yang positif agar para voter yang “mengambang” itu bisa beralih ke kita, lalu yang ketiga memilih pendamping atau wakil yang pas dan jangan asal memilih tetapi untuk wakil tidak terlalu masalah ketika calon ketuanya sudah mumpuni, lalu berikutnya pastikan bahwa lumbung-lumbung suara yang kita punyai tidak terpecah, dan berikutnya buatlah visi misi yang bagus karena bagaimanapun visi misi di lingkungan kampus sangat dibutuhkan karena itu merupakan tolok ukur intelektualitas seorang calon dan yang terakhir buatlah para voters terkesan ketika anda berada di acara debat visi misi yang diselenggarakan oleh KPUM dan jangan sampai terlewatkan yang tidak kalah penting lainnya yaitu membaca peta kekuatan lawan karena kalau tidak mampu membaca kekuatan lawan maka semua yang kita lakukan akan sia-sia.

Lalu pertanyaan yang esensial adalah apakah mahasiswa dituntut untuk mempunyai keahlian dan pengalaman di bidang politik? Atau mahasiswa harus mempunyai pengalaman di bidang lain seperti penelitian dan sebagainya, atau mungkin mahasiswa hanya wajib mempunyai keahlian dan pengalaman bekerja? inilah pertanyaan yang sebenarnya patut dipertanyakan kepada mahasiswa dan mungkin akan di jawab ketika kita terjun di dunia nyata. Semoga apa yang dilakukan seluruh mahasiswa Indonesia dengan apapun peranannya bisa membuat Indonesia lebih disegani baik oleh bangsanya sendiri ataupun oleh bangsa lain didunia.

0 komentar: